Jumat, 05 Agustus 2011

kreativitas anak usia dini

BAB II
LANDASAN TEORI



2.1. Kreativitas
2.1.1  Pengertian Kreativitas
        Kreativitas merupakan akumulasi dan berbagai faktor yang diaktualisasikan oleh seseorang melalui tindakan-tindakan konkrit ( Munandar, 1977; 12). Pendapat lain mengatakan bahwa "kreativitas dalam bentuknya sangat dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri seseorang, seperti kepribadian, inteligensi sikap, motif berprestasi, penyesuaian sosial serta faktor psikis dan karakteristik lainnya. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri seseorang seperri : faktor lingkungan keluarga, sekolah da masyarakat(Kuntoro, 1992).
          Berdasarkan pada kedua pendapat di atas dapat ditarik suatu simpulan bahwa yang dimaksud dengan kreativitas adalah akumulasi dari berbagai faktor yang diaktualisasikan oleh seseorang yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal yang diwujudkan melalui tindakan-tindakan konkrit.


2.1.2  Pentingnya Kreativitas Untuk Anak Usia Dini
          Kreatifitas merupakan daya dan atau kemampuan manusia untuk menciptakan sesuatu. Kemampuan ini dapat terkait dengan bidang seni maupun ilmu pengetahuan. Dalam bidang seni, intuisi dan inspirasi sangat berperan besar dan menuntut spontanitas lebih tinggi. Dibidang ilmu pengetahuan, kemampuan pengamatan dan perbandingan, menganalisa dan menyimpulkan lebih menentukan. Kedua-duanya menuntut pemusatan perhatian, kemampuan, kerja keras dan ketekunan; keduaduanya bertolak dari intelektualisme dan emosi, serta merupakan cara pengenalan realitas alam dan kehidupan yang sama.
          Menurut seorang psikolog terkenal, Erick Erikson, masa usia tiga setengah tahun hingga enam tahun adalah masa penting bagi seorang anak untuk mengembangkan kreativitasnya. Erikson mengatakan bahwa masa ini adalah masa pembentukan sikap initiative versus guilt (inisiatif dihadapkan pada rasa bersalah). Anak-anak yang mendapat lingkungan pengasuhan dan pendidikan yang baik, akan mampu mengembangkan sikap kreatif; antusias untuk bereksplorasi, bereksperimen, berimajinasi, serta berani mencoba dan mengambil resiko.
          Namun, semua itu bergantung pada lingkungan belajar anak; apakah memang kondusif untuk mencapai perkembangan tersebut? Banyak orangtua berharap, ketika anaknya masuk ke jenjang pendidikan prasekolah, sekolah tersebut mampu menyiapkan anak agar bisa membaca, menulis, dan berhitung. Akibatnya, banyak lembaga pendidikan prasekolah yang mengorientasikan pendidikannya secara lebih akademik. Hal ini biasanya membuat guru lebih sering menyuruh anak untuk duduk diam di ruang kelas, belajar menulis, dan mengerjakan soal-soal berhitung. Bahkan, hasil pekerjaan anak itu sudah mendapat nilai, kritik, dan disalahkan oleh guru. Padahal, menurut Ericson, apabila pada masa ini anak sering dikritik, disalahkan, atau diberikan nilai, maka sikap yang akan berkembang di dalam dirinya adalah perasaan bersalah dan takut. Perasaan bersalah ini akan membuat anak takut untuk mencoba, mengambil inisiatif dan berkreasi. Mengapa kreativitas begitu penting dalam hidup dan perlu dipupuk dalam diri anak sejak dini? Karena dengan berkreasi orang dapat mewujudkan (mengaktualisasikan) dirinya, dan perwujudan/aktualisasi diri merupakan kebutuhan pokok tingkat tertinggi dalam hidup manusia (Maslow, 1959).
          Kreativitas merupakan manifestasi dari individu yang berfungsi sepenuhnya. dengan kreativitas memungkinkan manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Dalam era pembangunan ini kesejahteraan dan kejayaan masyarakat maupun negara bergantung pada sumbangan kreatif, berupa ide-ide baru, penemuan-penemuan baru dan teknologi baru. Untuk mencapai hal ini perlulah sikap, pemikiran dan perilaku kreatif dipupuk sejak dini. Para psikolog, sosiolog dan ilmuwan lainnya telah lama mengetahui pentingnya kreativitas bagi individu dan masyarakat. Adanya keyakinan tradisional bahwa kreativitas, biasanya disebut “jenius”, diturunkan dan tidak ada yang dapat dilakukan untuk membuat orang kreatif. Sudah merupakan suatu keyakinan bahwa manusia dilahirkan dengan “percikan” kejeniusan” yang hebat atau tidak sama sekali.
          Ketika kreativitas masih diyakini sebagai unsur bawaan yang hanya dimiliki sebagian kecil anak dan dianggap akan berkembang secara otomatis, tidak dibutuhkan adanya rangsangan lingkungan atau kondisi lingkungan yang menguntungkan bagi perkembangan ini. Bertentangan dengan hal tersebut, ternyata diketahui bahwa semua anak mempunyai potensi untuk kreatif, walaupun tingkat kreativitasnya berbeda-beda. Akibatnya, kreativitas seperti halnya setiap potensi lain, perlu diberi kesempatan dan rangsang oleh lingkungan untuk berkembang. Unsur penting lainnya yang perperan penting dalam pengembangan kreativitas untuk anak sejak dini adalah penciptaan lingkungan fisik. Ruang interior, sebagai salah satu lingkungan fisik memiliki andil cukup besar dalam
berperan sebagai pendorong kreativitas anak, sebagai stimuli eksternal.


2.1.3.  Ciri-ciri Kreativitas
          Ciri-ciri kreativitas pada umumnya dapat dipakai sebagai tolak ukur dalam menentukan kreatif tidaknya seseorang. Kuntoro (1992) mengatakan : "ciri-ciri kreativitas seseorang dapat diiihat dari aspek dorongan atau motivasi. Aspek berpikir kreatif" ditunjukkan oleh sifat kelancaran (Jluencv). kelenturan (flexibility), keaslian (originality}, dan penguraian (elaboration). Aspek dorongan atau motivasi ditunjukkan oleh sifat-sifat karakter seperti . sikap percaya diri, tidak konvensional dan aspirasi keindahan''.
          Sedangkan Moore (1982) menyebutkan empat ciri dari kreatifitas,antara lain : sensitivitas terhadap masalah (problem sensitive), kelancaran ide (idea fluency), kelenturan pemikiran (idea flexibility}, keaslian pemikiran (idea originalilv).
          Dari kedua pendapat di atas dapat ditarik suatu simpulan mengenai ciri-ciri dari kreativitas seseorang yang meliputi :
1.      Menunjukkan sifat-sifat kelancaran (fluency),
2.      Kelenturan (flexibility),
3.      Keaslian (originality},
4.      Penguraian (elaboration),
5.      Sensitivitas (sensitivity).
         Untuk lebih jelasnya akan diuraikan mengenai ciri-ciri tersebut secara satu persatu :
         a). Kelancaran (fluency) merupakan kemampuan untuk menciptakan ide-ide sebagai alternatif pemecahan masalah. Namun untuk menghasilkan ide-ide diperlukan adanya pengetahuan yang luas dan mendalam. Bagi orang kreatif ia akan mampu melihat masalah dari berbagai macam sudut pandang serta menciptakan alternatif pemecahan dan berbagai sudut pandang pula.
         b). Kelenturan (flexibility) yaitu suatu kemampuan mengubah ide (pemikiran) meninggalkan suatu kerangka berpikir lain dan untuk mengganti suatu pendekatan satu dengan pendekatan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa orang kreatif tidak akan terlalu terikat pada pemecahan yang sudah lazim digunakan, akan tetapi ia akan selalu berusaha menemukan afternatif yang lebih efektif.
         c). Keaslian (originality) yaitu kemampuan menciptakan pemikiran atau ide-ide yang asli dari dirinya. Oleh karena itu orang yang kreatif akan mampu menciptakan ide/pemikiran dalam bentuk baru imajinatif dan irasional sehingga dapat menjangkau di luar pemikiran orang biasa, atau dapat berpikir unik melampaui cara-cara yang lazim digunakan.
          d). Penguraian (elaboration) adalah kemampuan untuk menguraikan suatu yang terinci yakni merupakan aktivitas untuk merangkai sebuah ide atau jawaban-jawaban  sipel agar menjadi  lebih mendetail.  Penguraian  ini dapat dikembangkan dengan cara memberikan latihan kepada anak, juga memberikan informasi tambahan atau melalui komunikasi verbal.
          e) Sensitivitas (sensitivity adalah kemampuan atau kepekaan seseorang untuk melihat masalah. yang artinya orang yang kreatif memiliki kepekaan yang tinggi dalam melihat suatu masalah. situasi dan juga tantangan. sehingga dapat merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang benar untuk menganalisa dan merumuskan masalah.
         Tampaknya ciri-ciri kreativitas yang diungkapkan para ahli atau pakar tersebut di atas pada umumnya hampir senada. Demikian juga seperti apa yang dikemukakan oleh Munandar (1977) bahwa ada delapan ciri sikap, kepercayaan, nilai-nilai yang melekat pada orang-orang yang kreatif yaitu :
1.      Terbuka terhadap pengalaman baru dan luar biasa,
2.      Luas dalam berpikir dan bertindak,
3.      Bebas dalam mengekspresikan diri,
4.      Dapat mengekspresikan fantasi,
5.      Berminat pada kegiatan-kegiatan kreatif,
6.      Percaya pada gagasan sendiri,
7.      Puas pada pekerjaanya sendiri,
8.      Dapat mandiri.
         

2.1.4.  Konsep Dasar Pengembangan Kreativitas
          “Kreativitas” merupakan salah satu istilah yang sering digunakan dalam penelitian psikologi masa kini dan sering digunakan dengan bebas di kalangan orang awam. Kreativitas merupakan suatu bidang yang sangat menarik untuk dikaji namun cukup rumit sehingga menimbulkan berbagai perbedaan pandangan. Menurut Supriadi (2001) kreativitas didefinisikan secara berbeda-beda tergantung pada bagaimana orang mendefinisikannya. Tidak ada satu definisipun yang dianggap dapat mewakili pemahaman yang beragam tentang kreativitas atau tidak ada satu definisipun yang dapat diterima secara universal. Hal ini disebabkan oleh dua alasan. Pertama kreativitas merupakan ranah psikologis yang kompleks dan multidimensional yang mengundang berbagai tafsiran yang beragam Kedua, definisi-definisi kreativitas memberikan tekanan yang berbeda-beda, tergantung pada dasar teori yang menjadi acuan pembuatan definisi kreativitas tersebut. Walaupun demikian akan dipaparkan beberapa definisi kreativitas yang dikemukakan oleh para ahli.
          Supriadi (2001) memaparkan bahwa kreativitas merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya. Sementara itu, Munandar (1999) mengemukakan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi, atau unsur-unsur yang sudah ada atau sudah dikenal sebelumnya, yaitu semua pengalaman dan pengetahuan yang telah diperoleh seseorang selama hidupnya baik itu di lingkungan sekolah, keluarga, maupun dari lingkungan masyarakat.
Selain itu, menurut pandangan ahli psikologis Horrace etal (Sumarno, 2003) dikatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menemukan cara-cara baru bagi pemecahan problemaproblema, baik yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan, seni sastra atau seni lainnya, yang mengandung suatu hasil atau pendekatan yang sama sekali baru bagi yang bersangkutan, meskipun bagi orang lain merupakan suatu hal yang tidak asing lagi. Banyak definisi tentang kreativitas, namun tidak ada satu definisi pun yang dapat diterima secara universal. Untuk lebih menjelaskan pengertian kreativitas, akan dikemukakan beberapa perumusan yang merupakan simpulan para ahli mengenai kreativitas.
          Kreativitas merupakan proses mental yang unik, suatu proses yang semata-mata dilakukan untuk menghasilkan sesuatu yang baru, berbeda dan orisinal. Sebaliknya kreativitas mencakup jenis pemikiran spesifik, yang disebut Guilford “pemikiran berbeda” (divergent thinking). Pemikiran menyimpang dari jalan yang telah dirintis sebelumnya dan mencari variasi. Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru dan sebelumnya tidak dikenal pembuatnya. Banyaknya definisi tentang kreativitas merupakan salah satu masalah kritis dalam meneliti, mengidentifikasi dan mengembangkan kreativitas. Dalam dunia pendidikan yang terpenting kreativitas perlu dikembangkan. Sehubungan dengan pengembangan kreativitas, terdapat empat aspek konsep kreativitas (Rhodes, 1987) diistilahkan sebagai “Four P’s of Creativity: Person, Process, Press, Product”.
          Utami Munandar (1999) menguraikan definisi tentang kreativitas berdasarkan empat P, pertama pribadi (person), bahwa setiap anak adalah pribadi unik dan kreativitas adalah ungkapan (ekspresi) dari keunikan pribadi individu.
          Kedua proses (process), kreativitas sebagai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru atau untuk menemukan hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya dalam mencari jawaban baru terhadap suatu masalah, merupakan manifestasi dari kelancaran, fleksibilitas dan orisinalitas pemikiran anak. Ketiga pendorong (press), kreativitas dapat berkembang jika ada “press” atau pendorong, baik dari dalam (dorongan internal, keinginan, motivasi atau hasrat yang kuat dari diri sendiri) untuk berkreasi, maupun dari luar, yaitu lingkungan yang memupuk dan mendorong pikiran, perasaan, sikap dan perilaku anak yang kreatif dengan memberikan peluang kepada anak untuk bersibuk diri secara kreatif. Keempat produk (product), bahwa produk-produk kreativitas yang konstruktif pasti akan muncul, karena produk kreativitas muncul dari proses interaksi dari keunikan individu, di satu pihak dan bahan, kejadian, orang-orang atau keadaan hidupnya (faktor lingkungan dilain pihak).
          Dengan dorongan internal maupun eksternal untuk bersibuk diri secara kreatif, maka produk-produk kreatif dengan sendirinya akan muncul. Misalnya sebagai pendidik menghargai produk kreativitas anak dan mengkomunikasikannya kepada yang lain dengan memamerkan karya anak, hal ini akan menggugah minat anak untuk berkreasi.


2.1.5.  Teori Tentang Proses Kreatif Dan Produk Kreatif
          Setelah memahami konsep kreativitas, perlu juga memahami proses kreatif dan produk kreatif. Proses kreatif untuk menjelaskan apa yang terjadi apabila seseorang mencipta. Hal tersebut dapat dilihat pada salah satu teori tradisional yang sampai sekarang banyak dikutip ialah Teori Wallas, dikemukakan tahun 1926 dalam bukunya The Art of Thought (Piirto, 1992), menyatakan bahwa proses kreatif meliputi empat tahap.
          Pertama, persiapan, tahap pengumpulan informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah. Individu mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berpikir, mencari jawaban, bertanya kepada orang lain dan sebagainya. Dengan bekal bahan dan pengetahuan maupun pengalaman individu menjajaki bermacam-macam kemungkinan penyelesaian masalah. Di tahap ini pemikiran divergen menjadi sangat penting, belum ada arah yang jelas, akan tetapi alam pikiran mengeksplorasi berbagai alternatif.
          Kedua, inkubasi, tahap di mana individu seakan-akan melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut, dalam arti bahwa ia tidak memikirkan masalahnya secara sadar, tetapi “mengeramnya” dalam alam pra-sadar. Tahap ini penting artinya dalam proses timbulnya inspirasi. Gagasan atau inspirasi merupakan titik mula dari suatu penemuan atau kreasi baru berasal dari daerah pra-sadar atau timbul dalam keadaan ketidaksadaran penuh.
          Ketiga, iluminasi, tahap timbulnya “insight” atau “Aha-Erlebnis”, saat timbulnya inspirasi atau gagasan baru, beserta proses-proses psikologis yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi atau gagasan baru.
          Keempat, verifikasi, tahap evaluasi ialah tahap di mana ide atau kreasi baru tersebut harus diuji terhadap realitas. Di sini diperlukan pemikiran kritis konvergen. Dengan perkataan lain, proses divergensi (pemikiran kreatif) harus diikuti oleh proses konvergensi (pemikiran kritis).
          Tentang produk kreatif diprediksikan akan muncul, jika memiliki kondisi pribadi dan lingkungan yang menunjang (press), atau lingkungan yang memberi kesempatan untuk bersibuk diri secara kreatif. Terjadi hubungan antara tahap-tahap proses kreatif (Wallas) dan produk yang dicapai.
          Perilaku kreatif memerlukan kombinasi antara ciri-ciri psikologis yang berinteraksi sebagai hasil dari berpikir konvergen atau intelegensi memperoleh pengetahuan dan pengembangan keterampilan, manusia memiliki seperangkat unsur-unsur mental. Dalam memecahkan masalah, individu mengerjakan dan menggabungkan unsur-unsur mental sampai timbul “konfigurasi”. Konfigurasi ini dapat berupa gagasan, model, tindakan, cara menyusun kata, melodi atau bentuk.
          Pemikir divergen mampu menggabung unsur-unsur dengan caracara yang tidak lazim dan tidak diduga (kreatif). Namun konstruksi konfigurasi tersebut tidak memerlukan berpikir konvergen dan divergen saja, tetapi juga motivasi, karakteristik pribadi yang sesuai, unsur-unsur sosial dan keterampilan komunikasi. Proses ini disertai perasaan dan emosi yang dapat menunjang atau menghambat.


2.1.6.  Teori Persimpangan Kreativitas (Creativity Intersection)
          Dalam membantu anak mewujudkan kreativitas mereka, anak perlu dilatih dalam keterampilan tertentu sesuai dengan minat pribadinya dan diberi kesempatan untuk mengembangkan bakat atau talenta mereka. Pendidik, terutama orang tua perlu menciptakan iklim yang merangsang pemikiran dan keterampilan kreatif anak, serta menyediakan sarana dan prasarana. Tetapi ini tidak cukup, selain perhatian, dorongan dan pelatihan dari lingkungan, perlu ada motivasi intrinsik pada anak. Minat anak untuk melakukan sesuatu harus tumbuh dari dalam dirinya sendiri, atas keinginannya sendiri.
          Keberhasilan kreatif adalah persimpangan (intersection) antara keterampilan anak dalam bidang tertentu (domain skills), keterampilan berpikir dan bekerja kreatif, dan motivasi intrinsik, dapat juga disebut motivasi batin (Amabile, 1989). Motivasi intrinsik sebagaimana telah dikemukakan adalah motivasi yang tumbuh dari dalam, berbeda dengan motivasi ekstrinsik yang ditimbulkan dari luar, oleh lingkungan


2.1.7.  Perkembangan Kreativitas Anak
          Perkembangan kreativitas mengikuti pola yang dapat diramalkan, pertama-tama terlihat dalam permainan anak, lalu secara bertahap menyebar ke berbagai bidang kehidupan lainnya seperti pekerjaan sekolah, kegiatan rekreasi dan pekerjaan. Hasil kreatif biasanya mencapai puncaknya pada usia tiga puluh dan empat puluhan. Setelah itu tetap mendatar atau secara bertahap menurun.
          Apakah pola ini akan diikuti atau tidak sebagian besar tergantung pada pengaruh-pengaruh lingkungan yang memudahkan atau menghalangi ekspresi kreativitas. Spock (1974) menekankan betapa pentingnya sikap awal orang tua terhadap ekspresi kreativitas anak.


2.1.8.  Ekspresi Kreativitas Anak
          Beberapa cara yang paling umum digunakan anak untuk mengekspresikan kreativitas pada berbagai usia dijelaskan oleh Hurlock (1999), sebagai berikut: Animisme adalah kecenderungan untuk menganggap benda mati sebagai benda hidup. Anak kecil mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang terlalu minim untuk mampu membedakan antara hal-hal yang mempunyai sifat hidup dan yang tidak.
          Pikiran animistik dimulai sekitar usia anak 2 tahun, mencapai puncaknya antara 4 dan 5 tahun, kemudian menurun dengan cepat dan menghilang segera sesudah anak masuk sekolah.


2.1.9.  Faktor-Faktor Yang Meningkatkan Kreativitas Anak
          Semua anak mempunyai potensi untuk kreatif, walaupun tingkat kreativitasnya berbeda-beda. Akibatnya, kreativitas seperti halnya setiap potensi lain, perlu diberi kesempatan dan rangsangan oleh lingkungan untuk berkembang.
          Titik pandangan baru mengenai kreativitas mendorong diadakannya penelitian untuk menentukan apa saja kondisi lingkungan yang menguntungkan dan membekukan perkembangankreativitas. Penelitian telah menunjukkan dua faktor yang penting (Hurlock, 1999). Pertama, sikap sosial yang ada dan tidak menguntungkan kreativitas harus ditanggulangi. Alasannya, karena sikap seperti itu mempengaruhi teman sebaya, orang tua dan guru serta perlakuan mereka terhadap anak yang berpotensi kreatif. Apabila harus dibentuk kondisi yang menguntungkan bagi perkembangan kreativitas, faktor negatif ini harus dihilangkan. Kedua, kondisi yang menguntungkan bagi perkembangan kreativitas harus diadakan pada awal kehidupannyua ketika kreativitas mulai berkembang dan harus dilanjutkan terus sampai berkembang dengan baik.
          Banyak hal dapat dilakukan untuk meningkatkan kreativitas, seperti memberi dorongan kreatif, waktu untuk bermain dan sebagainya. Anak membutuhkan waktu dan kesempatan menyendiri untuk mengembangkan kehidupan imajinatif yang kaya. Selain hal tersebut mereka juga membutuhkan sarana untuk bermain dan kelak sarana lainnya harus disediakan untuk merangsang dorongan eksperimental dan eksplorasi, yang merupakan unsur penting dari semua kreativitas dengan dukungan lingkungan yang merangsang.
          Tentang kondisi lingkungan yang dapat merangsang kreativitas dijelaskan oleh Hurlock (1999) bahwa lingkungan rumah dan sekolah harus merangsang kreativitas dengan memberikan bimbingan dan dorongan untuk menggunakan sarana yang akan mendorong kreativitas.
          Kurangnya rangsangan, sebagai salah satu hambatan yang paling umum terjadi, akan menghambat perkembangan kreativitas dan membekukan kreativitas itu sendiri. Kurangnya rangsangan dapat disebabkan ketidaktahuan orang tua dan orang lain dalam lingkungan anak tentang pentingnya kreativitas atau mungkin ditimbulkan oleh asumsi bahwa kreativitas merupakan sifat bawaan, sehingga alam akan mengatur perkembangnnya dan karena nya rangsangan tidak diperlukan.


2.1.10.  Pembelajaran Kreativitas Untuk Anak Usia Dini
          Proses pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bukanlah proses belajar mengajar seperti yang diselenggarakan di sekolah, namun lebih ditekankan sebagai tempat bermain, tempat dimana anak mulai mengenal orang lain, tempat untuk berkreasi dibawah asuhan dan bimbingan orang tua. Pengembangan kepribadian dan kecerdasan yang sebenarnya telah dimiliki oleh setiap anak merupakan tujuan utama dalam proses pembelajaran di PAUD. Pengembangan kepribadian dan proses berpikir anak yang menjadi tujuan pembelajaran di PAUD diselenggarakan dengan cara memberikan kebebasan pada anak untuk memilih sendiri jenis mainan yang sesuai dengan kemampuannya.
          Untuk mengetahui kecerdasan yang dimiliki oleh setiap anak dapat dilakukan dengan cara mengamati pilihan anak ketika mereka disuruh memilih mainan. Dengan diberi kesempatan untuk memilih ini setiap anak akan menentukan pilihannya masing-masing. Ketika anak telah menemukan mainan kesukaannya maka ia akan menekuni permainannya, dan seringkali ketika sedang bermain mengabaikan yang lain. Pada saat anak bermain itulah dapat diamati bahwa anak memiliki kecerdasan tertentu.
          Dalam pembelajaran di PAUD anak tidak dapat dipaksakan untuk mempelajari sesuatu yang bukan kemampuannya. Jika anak tidak suka menggambar maka ia akan malas dan mungkin akan menangis ketika dipaksakan untuk melakukanvperintah gurunya. Anak akan menangis ketika disuruh menyanyi ketika anak itu tidak suka dengan menyanyi. Anak akan malas belajar ketika disuruh menghitung sementara ia tidak senang dengan menghitung, dan banyak contoh lainnya. Oleh sebab itu proses pembelajaran di PAUD harus benar-benar memperhatikan kemampuan yang dimiliki oleh setiap anak karena hal ini akan menentukan masa depannya. Peletakan dasar kepribadian, pengembangan, dan pembentukan kepribadian anak tergantung pada awalnya ketika anak tersebut memperoleh pengalaman pertamanya dalam proses pembelajaran yang dialaminya. Proses pembelajaran kreatif dengan memberikan rangsangan belajar bagi anak sesuai dengan kecerdasan yang dimilikinya akan sangat menentukan masa depan anak.


2.1.11.  Peran Guru/Tutor Dalam Pembelajaran Kreativitas
          Proses pembelajaran yang dilaksanakan di tingkat PAUD tidak memaksa anak harus belajar pada bidang lain yang tidak sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Memaksakan anak harus belajar sesuatu yang tidak sesuai dengan daya kemampuannya adalah tindakan yang mematikan kreativitas anak dan hasilnya anak tidak mempunyai kepercayaan diri. Dalam hal inilah seorang guru/tutor/pembimbing mempunyai peran yang penting dalam memberikan pendampingan bagi anak untuk mengambangkan kemampuannya.
          Seorang guru/tutor/pembimbing di PAUD memerlukan wawasan dan pengetahuan yang cukup luas karena berperan sebagai orang tua sekaligus teman bermain bagi anak asuhnya. Proses perkembangan kreativitas dan kemampuan berpikir anak akan berhasil ketika seorang pembimbing dapat mengarahkan dan memberikan motivasi bagi anak untuk mengembangkan diri sesuai dengan kecerdasan yang ada dalam dirinya. Memberikan rangsangan belajar dan selaku motivator bagi anak merupakan tugas yang harus dijalankan bagi seorang pembimbing di PAUD dengan melakukan pendekatan psikologis terhadap anak. Memberikan penghargaan bagi setiap hasil karya yang telah dikerjakan oleh anak akan memberikan dorongan positif bagi anak dari pada hukuman yang membuat anak menjadi takut.
          Apapun hasil kerja anak merupakan suatu proses yang terus berlangsung ketika anak belajar hingga dapat menghasilkan kepuasan bagi dirinya. Penghargaan dan pujian yang disertai dengan evaluasi untuk memperbaiki setiap hasil kerja anak akan memberikan dorongan yang kuat bagi anak untuk lebih tekun belajar. Keberhasilan dalam meletakkan dasar kepribadian dan pengembangan kecerdasan anak salah satu unsurnya ditentukan oleh pembimbing. Tugas mulia inilah yang harus diemban oleh setiap pembimbing di PAUD sehingga akan menciptakan generasi yang berkualitas.


2.1.12.  Kiat Menumbuhkan Kreativitas Anak
          Untuk menumbuhkan kreativitas anak, guru/tutor/pembimbing dapat mengakrabkan anak dengan dunia seni. Ketika jiwa seni anak cukup tinggi, mereka bisa mengapresiasi seni, menyukai seni, dan umumnya lebih cerdas secara emosi. Mengajak anak-anak mengunjungi pameran kesenian, seperti pameran lukisan, juga dapat menambah minat anakanak terhadap seni.
          Disamping itu, perjalanan mengeksplorasi alam juga mampu menggugah kreativitas anak dan mengasah kecerdasan spiritual. Apabila memungkinkan, guru dapat menjadwalkan kegiatan outing/field trip (kegiatan belajar di luar sekolah) yang berbentuk kegiatan mengeksplorasi alam. Pergi ke kebun binatang, ke alam bebas, baik pantai maupun pegunungan, perkebunan teh, merupakan beberapa tempat yang dapat menjadi pilihan. Mengapa alam bebas?
          Pertama ke alam bebas, baik ke daerah pegunungan atau pantai merupakan dua tempat yang kemungkinan jarang ditemui si kecil dalam kehidupan sehari-hari di kota. Melakukan sesuatu di tempat yang benar-benar berbeda, membuat pengalaman si kecil kian kaya.
          Kedua, anak akan menemukan berbagai hal yang dapat menambah perbendaharaan konsepnya. Hal-hal yang selama ini hanya ia lihat dari buku dan televisi dapat dinikmatinya secara langsung.
          Bagaimana rasanya berdiri, berbaring, atau mengenggam pasir? Bahkan si kecil juga dapat bermain membentuk bangunan dari pasir, mengumpulkan kerang, ganggang, dan biota laut lainnya. Anak akan tertarik mendengar suara lembut dan halus air yang jatuh pada batu, seperti yang ada di sungai dan di pegunungan, yang akan menambah rekaman audio si kecil. Mereka juga akan merasakan perbedaan udara dingin di pegunungan dengan teriknya pantai. Kesemua stimulasi tersebut akan menumbuhkan kepekaannya terhadap keindahan alam yang dapat menjadi faktor pendorong anak untuk menjadi kreatif.
          Ketiga, untuk perkembangan motorik dan jiwa anak, ia perlu tempat luas untuk bergerak. Usia balita hingga TK adalah usia pertumbuhan dan perkembangan yang cepat. Pertumbuhan dan perkembangan anak optimal jika ia berada dalam keadaan sehat, baik fisik maupun mental. Melalui gerak, anak memperoleh keduanya. Apa yang biasanya ingin dilakukan anak pada saat bepergian ke kebun binatang? Tentunya mereka akan tertarik dengan berbagai bentuk dan aktivitas hewan di sana. Begitupula dengan bunyi-bunyian setiap hewan yang unik. Inilah kesempatan yang baik bagi guru untuk memperkenalkan kehidupan dan kebiasaan hewan kepada anak-anak.
          Selain itu, naik kuda, merupakan pilihan yang relative diminati banyak anak. Anak-anak memang menyukai hewan, apalagi hewan yang besar dan jinak di alam. Rekaman visual tersebut akan memperkaya daya imajinasi anak. Hal pertama yang paling penting dalam memilih dan mengadakan kegiatan outing adalah aktivitas tersebut harus terarah dan memiliki tujuan yang jelas. Outing atau field trip tersebut sebaiknya memang jelas berkaitan dengan materi pelajaran yang diberikan di sekolah. Disamping itu, sebaiknya berikan juga tugas yang harus siswa kerjakan agar kegiatan outing efektif dan sesuai sasaran. Selain itu, pihak sekolah sebaiknya mempersiapkan dengan seksama jadwal kegiatan yang akan dilakukan dalam acara outing agar berjalan lancar dan terarah. Disarankan perbandingan guru pendamping dengan jumlah murid sebanyak 1 banding 5. Biasanya sejak 3 hari sebelum acara para guru sudah menjelaskan apa saja yang akan dilakukan anak-anak di acara tersebut.
          Kegiatan outing juga sebaiknya berbentuk aktivitas yang memang sesuai dengan usia anak dan cukup aman dan nyaman baginya. Pihak sekolah sebaiknya melakukan survei tempat terlebih dahulu untuk memastikan keamanan tempat tersebut. Umumnya dalam kegiatan outing anak sekolah TK, orang tua murid ikut serta mendampingi anak-anak peserta outing tersebut. Namun tentu diharapkan orang tua menghindari sikap over protective kepada si kecil. Justru acara outing merupakan sarana untuk mengajarkan kemandirian dan mengembangkan kreativitasnya.



2.2.  Metode Pemberian Tugas
2.2.1  Pengertian Metode Pemberian Tugas
          Seperti apa yang dikemukakan oleh Lilis Suryani.dkk.(2004:4.22) bahwa "Metode resitasi (tugas) yang dimaksudkan adalah salah satu tanggung jawab yang haras diselesaikan oleh anak. Lebih lanjut dikatakan bahwa metode pemberian tugas yang dimaksudkan adalah salah satu cara pembelajaran yang dilakukan pendidik ketika memberikan pekerjaan kepada anak untuk mencapai tujuan suatu pengembangan tertentu".
Ekasriadi, dkk.(2005:26) menjelaskan bahwa "Metode resitasi (pemberian tugas) adalah kegiatan pembelajaran dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk melaksanakan tugas yang telah disiapkan oleh guru".
          Dengan mengerjakan tugas yang diberikan, diharapkan akan terdapat perubahan tingkah laku pada anak sesuai dengan tujuan pembelajarannya. Pemberian tugas pada umumnya diberikan tidak hanya di dalam lembaga pendidikan tetapi juga diberikan untuk dikerjakan di rumah. Satu hal yang harus diingat dalam pemberian tugas untuk anak usia 4-5 tahun bahwa pemberian tugas bukan berarti meminta anak mengerjakan lebih banyak soal-soal latihan yang tidak selesai dikerjakan di lembaga pendidikan. Pemberian tugas untuk anak lebih bertujuan untuk melibatkan orang tua dalam proses pembelajaran untuk anak, seperti . mengumpulkan daun kering untuk membuat kartu ucapan terima kasih kepada ibu keesokan harinya di kelas.Dengan kata lain pemberian tugas bukan bersifat paper and pencil (tugas yang lebih menuntut anak mengerjakan sesualu dengan banyak rnenulis, seperti mengerjakan lembar kerja)
Hal ini sejalan dengan pendapatnya fikasriadi, dkk. (2005) yang mengatakan bahwa metode pemberian tugas di taman kanak-kanak berbeda dengan metode pemberian tugas di SD yang lebih identik dengan pekerjaan rumah Pemberian tugas di taman kanak-kanak dilaksanakan di taman kanak-kanak bukan dalam bentuk pekerjaan rumah dan bukan di luar jam pelajaran, bentuknya memberikan pekerjaan mewarnai gambar pada jam-jam pembelajaran.
         Adapun kelebihan yang dimiliki oleh metode pcmberian tugas ini terhadap pembelajaran di taman kanak-kanak, seperti :
1.      Memberi kesempatan kepada anak untuk belajar lebih banyak,
2.      Memupuk rasa tanggung jawab,
3.      Memperkuat motivasi belajar,
4.      Membangun hubungan yang erat dengan orang tua,
5.      Mengembangkan keberanian berinisiatif.
         Dari lima kelebihan yang dimiliki oleh metode pemberian tugas ini, sangat mendukung komponen pengembangan kreativitas anak, seperti komponen progresif dan ulet. memiliki inisiatif, tidak ketergantungan, percaya akan kemampuan sendiri, puas pada pekerjaan sendiri, dapat mengambii keputusan segera, berusaha rnemenuhi kebutuhan sendiri, bertanggung jawab. Selanjutnya akan dibicarakan mengenai teknik mewarnai gambar sebagai pelaksanaan tindakan pemberian tugas.


2.2.2.  Teknik Mewarnai Gambar
         Mewarnai gambar adalah salah satu cara untuk mengembangkan fismot (fisik dan motorik) anak, namun di dalam pengembangan fismot ini salah satu indikatornya adalah kreativitas anak. Hal ini sejalan dengan pendapat Ekasriadi, dkk (2005) yang mengatakan salah satu prinsip pengembangan motorik anak adalah menyajikan alat-alat yang dapat merangsang anak untuk melakukan kegiatan-kcgiatan yang dapat menumbuhkan kreativitas anak. Pendapat ini menujukkan bahwa menumbuhkan kreativitas anak merupakan salah satu bagian dari penumbuhan fisik dan motorik anak.
         Untuk lebih jelasnya, terlebih dahulu akan diuraikan sedikit mengenai pengembangan motorik anak.

1.      Pengertian Motorik
         Perkembangan motorik anak-anak biasanya dipilah menjadi dua yaitu perkembangan motorik kasar dan motorik halus. Pengembangan motorik kasar adalah kegiatan anak-anak yang dilakukan dengan bertumpu pada otot besar atau kasar baik itu otot tangan, kaki maupun otot-otot badan yang lainnya. Jamaris. 2003 dalam Ekasriadi.2005) mengatakan bahwa motorik kasar itu merupakan kegiatan aktivitas/gerakan yang dilakukan dengan menggunakan otot besar atau kasar (tangan, kaki. badan)
         Motorik kasar meliputi kegiatan seluruh atau sebagian tubuh seperti : merayap, merangkak. berjalan, berjingkat. angkat tumit, berlari, meloncat, menendang, melempar, menari, senam dan sebagainya.
         Papalia dan Old .1995 (dalam Ekasriadi, 2005) mengatakan bahwa anak usia 4-6 tahun anak menyenangi kegiatan fisik yang mengandung bahaya, seperti melompat dari tempat tinggi atau bergantung dengan kepala menggelantung ke bawah. Anak pada usia ini juga menyenangi kegiatan lomba seperti balapan sepeda balapan lari atau kegiatan lain yang mengandung bahaya.
         Menurut Lenner (dalam Ekasriadi,2005) bahua motorik halus adalah keterampilan menggunakan media dengan koordinasi antara mata dengan tangan. Tidak jauh dari pengertian yang diberikan oleh Janiaris. 2003 (dalam Ekasriadi. 2005) yang mengatakan bahwa motorik halus adalah kegiatan/aktivitas/ gerakan yang dilakukan dengan menggunakan otot halus (jari-jari tangan), seperti membuat garis, menggambar, meronce, membangun dengan berbagai kreativitas, mewarnai, menggunting dan lain sebagainya.
         Perkembangan motorik halus anak taman kanak-kanak ditekankan pada koordinasi gerakan motorik halus dan dalam hal ini berkaitan dengan meletakan atau memegang suatu objek dengan menggunakan jari-jari tangan.
         Pada usia 4 tahun, koordinasi gerakan motorik halus anak sangat berkembang bahkan hampir sempurna. Pada usia 5-6 tahun, koordinasi gerakan motorik halus berkembang dengan pesat. Pada masa ini anak telah mampu mengkoordinasikan gerakan visual motorik seperti : mengkoordinasikan gerakan mata dengan gerakan tangan, lengan dan tubuh secara bersamaan. Hal ini dapat dilihat pada saat anak-anak menulis atau menggambar.

2.      Prinsip-Prinsip    Perkembangan    Motorik   Anak    Usia    Taman Kanak-Kanak
          Pada awal perkembangannya , gerakan motorik anak tidak terkoordinasi dengan baik. Seiring dengan kematangan dan pengalaman anak, kemampuan motorik tersebut berkembang dari tidak terkoordinasi menjadi terkoordinasi dengan baik. Prinsip utama perkembangan motorik adalah kematangan, urutan motivasi, pengalaman dan latihan (praktik) (Malina & Bouchard, 1991, dalam Ekasriadi dkk, 2005).
a.    Kematangan Syaraf
         Pada waktu dilahirkan, anak hanya memiiiki otak seberat 25 % dari bera; otak orang dewasa (Papalia dan Olds. 1995. dalam Ekasriadi. 2005). Syaraf-syaraf yang ada di pusat susunan syaraf belum berkembang dan berfungsi sesuai dengan fungsinya dalam mengontrol gerakan motorik. Sejalan dengan perkembangan fisik dan usia anak, syaraf-syaraf yang berfungsi mengontrol gerakan motorik mengalami proses neurological maturation (kematangan neurologis). Oleh karena itu kematangan secara neurologis merupakan hal yang penting dan berpengaruh pada kemampuan anak dalam mengontrol gerakan motoriknya.
b.         Urutan
          Proses perkembangan motorik manusia berlangsung secara berurutan yang terdiri atas dua urutan : (I) urutan pertama disebut dengan pembedaan yang mencakup perkembangan secara perlahan dari gerakan motorik kasar yang belum terarah dengan baik kepada gerakan yang lebih terarah sesuai dengan fungsi gerakan motorik kasar. (2) urutan kedua adalah keterpaduan, yaitu kemampuan dalam menggunakan gerakan motorik yang saling berlawanan dalam koordinasi gerakan yang baik, seperti berlari dan berhenti (Ekasriadi, 2005)
c.    Motivasi
         Kematangan motorik yang dicapai anak rnengandung arti bahwa anak telah siap melakukan berbagai kegiatan yang melibatkan aktivitas motorik Kematangan motorik ini memotivasi anak untuk melakukan aktivitas motorik dalam lingkup yang luas. Hal ini dapat dilihat dari : (1) aktivitas fisiologi meningkat tajam. (2) anak seakan-akan tidak .mau berhenti melakukan aktivitas fisik. baik yang melibatkan motorik kasar maupun motorik halus.
          Motivasi yang datang dari dalam diri anak tersebut perlu didukung dengan motivasi yang datang dari luar, yakni memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan berbagai aktivitas dan menyediakan berbagai sarana dan prasarana yang dibutuhkan anak.

d.    Pengalaman dan Latihan
          Pada saat anak mencapai kematangan untuk terlibat secara aktif dalam aktivitas fisik yang ditandai dengan kesiapan dan motivasi yang tinggi, dan seiring dengan hal tersebut, orang tua dan guru perlu memberikan berbagai kesempatan dan pengalaman yang dapat meningkatkan keterampilan motorik anak secara optimal. Peluang-peluang ini tidak saja berbentuk membiarkan anak melakukan kegiaian fisik, akan tctapi perlu juga didukung dengan berbagai fasilitas yang berguna bagi pengembangan keterampilan motorik kasar dan motorik halus.
          Anak yang kurang mendapatkan kesempatan dalam mengembangkan keterampilan motorik pada waktu ia siap untuk melakukan kegiatan tersebut. pada tingkat perkembangan selanjutnya kurang tertarik dengan aklivitas-aktivitas jasmani seperti olahraga dan aktivitas lainnya. Untuk mendapatkan pengalaman secara luas, maka anak perlu melakukan berbagai kegiatan bermain seperti : melompat berulang-ulang, berlari mengelilingi ruangan atau halaman. bergantung, mencoret-coret kertas, merobek-robek kertas, menggambar, menyusun balok menjadi suatu bangunan dan sebagainya.
          Pengalaman dalam berbagai kegiatan bermain yang dilakukan anak ini sangat bermanfaat bagi pengembangan keterampilan motorik anak secara optimal.

3.    Karakteristik Keterampilan Koordinasi Gerakan Motorik Anak
         Keterampilan koordinasi gerakan motorik kasar meliputi seluruh atau bagian tubuh. Di samping itu keterampilan koordinasi motorik kasar juga mencakup ketahanan, kecepatan, kelenturan, ketangkasan, keseimbangan dan kekuatan.
         Keterampilan koordinasi motorik kasar dapat dibagi ke dalam tiga kelompok yang meliputi :
1.      Keterampilan lokomotorik seperti berlari, meloncat. meluncur. berguling. berhenti setelah berjalan, menjatuhkan diri dan mengelak,
2.      Keterampilan non lokomotorik yang meliputi menggerakkan anggota tubuh dengan posisi tubuh diam ditempat, berayun, berbelok. mengangkat, bergoyang, merentang. memeluk. melengkung, memutar dan mendorong,
3.      Keterampilan memproyeksi, menangkap dan menerima. Keterampilan ini dapat dilihat pada anak saat menangkap bola, menggiring bola, melempar bola, menendang bola, melambungkan bola, memukul dan menarik (Ekasriadi, 2005)
         Berdasarkan keterampilan koordinasi motorik di atas, maka anak usia TK dapat melakukan berbagai aktivitas seperti : mengendarai sepeda roda tiga atau roda dua, berlari dan berhenti berlari dengan sempurna, menaiki dan memanjat tangga gimnastik, melompat dengan satu kaki dan dua kaki, meloncat jauh, berdiri secara seimbang, mengikuti irama musik dan sebagainya.
         Sedangkan keterampilan yang mengkhusus tentang koordinasi gerakan motorik halus menyangkut gerakan jari-jari tangan dalam melakukan kegiatan atau aktivitas sebagai berikut :
1.    Dapat menggunakan gunting untuk memotong kertas,
2.    Dapat memasang dan membuka resleting,
3.    Dapat menahan kertas dengan satu tangan sementara tangan yang lain digunakan untuk menggambar, menulis atau kegiatan lainnya.
4.    Dapat memasukkan benang ke dalam jarum. dapat mewarnai gambar dengan baik. Dapat mengatur (meronce) manik—manik dengan benang dan jarum, dapat melipat kertas untuk dijadikan suatu bentuk.


2.2.3. Implikasi Perkembangan  Motorik  Anak  Dalam   Proses Pembelajaran Yang Efektif Di Taman Kanak-Kanak
         Di Taman Kanak-Kanak memiliki karakteristik tertentu dalam pembelajaran, karena pembelajaran yang dilakukan dengan cara bermain. Penanaman maupun pengembangan potensi anak-anak hanya dapat dilakukan dengan bermain. Untuk itu di lembaga.pendidikan TK sarana permainan dan metode guru dalam pembelajaran harus bervariasi dan banyak variasinya.
         Untuk pembelajaran yang efektif di Taman Kanak-kanak, maka di bawah akan disampaikan beberapa hal yang kiranya dapat diterapkan.
1)  memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan  terampilan
motorik    halus    melalui    berbagai    kegiatan    yang    bermanfaat    bagi pengembangan keterampilan gerakan motorik anak di TK, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
2)           Dapat digunakan mewarnai gambar dalam rangka melatih kreativitas anak di dalam kelas.
3)           Apabila    keadaan    memungkinkan    gunakan   musik   untuk    melatih keterampilan motorik anak-anak.
4)           Aktivitas pengembangan keterampilan motorik yang harus dikembangkan berdasarkan  prinsip-prinsip perkembangan  motorik  yaitu  kematangan syaraf. urutan, motivasi, dan praktik
5)           Sarana   dan    prasarana    yang    dibutuhkan    dalam    pengembangkan
keterampilan motorik anak di TK hendaknya disediakan sesuai dengan kebutuhan anak dan tidak membahayakan keselamatan anak
           Dari urain di atas dapat ditarik suatu simpulan bahwa mewarnai gambar termasuk salah satu cara untuk meningkatkan atau mengembangkan kreativitas anak dan kreativitas anak ini merupakan salah satu bagian dari pengembangan motorik anak.


2.2.4.   Beberapa Contoh Mewarnai Gambar Untuk Anak Taman Kanak-Kanak
1)      Menggambar bebas dari bentuk dasar titik. garis, lingkaran, segiempat, bujur sangkar, segitiga yang sudah tersedia.  Bahan atau alat yang dibutuhkan adalah kertas gambar, krayon, pensil berwarna, dan spidol. Langkah-langkah pelaksanaan :
-         Guru menyiapkah alat yang diperlukan dan memberikan nama,
tanggal kegiatan pada masing-masing lembar kegiatan anak
-         Guru inenjelaskan tentang apa yang harus dikerjakan oleh anak (tentang menggambar bebas)
-         Anak diberikan kebebasan unluk menggambar sesuatu   beherapa
bentuk gambar dengan bentuk dasar yang ditentukan oleh guru
-         Selama anak melakukan kegiatan, guru memberikan rangsangan,
dorongan dan bimbingan bila diperlukan.
-         Guru memelihara keberanian anak dalam menggambar
-         Guru menghargai hasil karya anak.
2)     Permainan warna dengan berbagai media (krayon, cat air, arang, kapur). Kegiatan bermain atau mewarnai gambar dengan jumlah warna yang telah ditentukan (misalnya, menggunakan dua macam warna dengan krayon). Alat yang dibutuhkan adalah kertas/ buku gambar. krayon.
Adapun langkah-langkah pelaksanaannya adalah :
-         Guru menyiapkan alat yang diperlukan
-         Guru menyiapkan pola gambar pada kertas atau buku gambar untuk
kegiatan permainan wama sejumlah anak.
-         Guru menjelaskan tentang kegiatan permainan warna dengan cara sebagai berikut :
a)      pada awal kegiatan tersebut, guru menjelaskan kepada anak cara mewarnai (sesuai kesukaan/keinginan anak),
b)      pola  gambar yang telah dibuat guru supaya diwamai oleh anak. Anak dengan bebas mewamai gambar yang telah disediakan.
-         Guru rrtemberikan tugas kepada anak
-         Guru memberikan dorongan kepada anak untuk melaksanakan kegiatan
-         Guru memberikan bimbingan kepada anak yang memerlukan
-         Guru memberikan pujian kepada anak yang hasil karyanya bagus.
          Dalam kegiatan mewamai gambar, pola yang dibuat guru hendaknya di mulai dan pola yang termudah sampai dengan yang tersukar sesuai dengan kreasi guru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar